Petualangan Memakai Kacamata

Petualangan Memakai Kacamata

Hai pirsawaaannn!! Ada perkembangan berita dari saya, baru-baru ini (sekitar seminggu) saya mulai memakai kacamata! Bukan untuk gaya-gayaan, tapi memang jarak pandang yang sudah mulai blur akhir-akhir ini -_-. Sebenarnya sih juga karena ingin memperbarui penampilan, mungkin kacamata bisa dipilih menjadi opsi yang baik :D . Berikut adalah penampakan saya setelah memakai kacamata (narsis).

Masih tetap memesona kan

Btw, ini bukan pakai kacamata saya, tapi pakai kacamatanya temannya kakak saya (duh repot, anak baik gak boleh niru ya).

Awal pandangan yang mulai tidak jelas diawali ketika jaman saya duduk di bangku SMA. Saya sudah merasa kalau mata kanan saya tidak bisa melihat sejelas mata kiri saya. Saya pikir itu karena kelelahan atau bagaimana, jadi tidak ambil pusing, lagipula dulu saya waktu SMA termasuk orang yang tidak ingin memakai kacamata, idealnya sih tetap ingin mempertahankan mata normal. Lagipula kalau saya melihat dengan kedua mata, alhamdulillah masih jelas, jadi mungkin saat ini belum perlu kacamata. Setelah kejadian ini, saya sering merasa kalau untuk melihat jarak jauh, pandangan sudah agak-agak berbayang. Ini berbahaya sih, apalagi kalau nyetir malan-malam, suka ngga kelihatan. Terus juga untuk membaca slide presentasi atau semacamnya dari jauh, agak berbayang dan menyulitkan. Awalnya sih masih bisa saya atasi dengan nanya ke teman itu tulisannya apa, tapi lama-lama jadi butuh juga sense untuk pakai kacamata (sok iye).

Kemudian teman saya, Ayam (panggilan), suatu hari pergi ke optik untuk memeriksa matanya, kemudian ia kembali dengan kacamata sudah bertengger di wajahnya. Kemudian saya coba kacamatanya kan iseng-iseng. Eh jelas lho, maksudnya emang gak sejelas itu, tapi saya gak merasakan pusing dan melihat jarak jauh jadi lebih jelas. Saya mulai menimbang-nimbang, mungkin ini saatnya saya menggunakan kacamata. Yeah.

Pada kepulangan saya ke Jakarta, saya meminta pada Ibu saya untuk mengantarkan saya ke optik mata terdekat, saya bilang mau pakai kacamata, demi kebutuhan penglihatan yang lebih oke punya. Mata saya kemudian diperiksa dan JENG JENG ternyata memang benar mata kanan saya minus, sementara mata kiri saya hampir mendekati normal. OMG. Ya sudah, sekalian saja saya buat kacamata. Mayan.

Berakhir juga masa-masa saya yang pongah tidak mau pakai kacamata, akhirnya pakai juga. Huft~ Nah yang sulit bukanlah masa itu, tapi masa untuk membiasakan diri saya menggunakan kacamata. Karena belum terbiasa dengan kacamata, saya lumayan suka merasa pusing, mata berair, mata pedih, kepala nyut nyut kalau kelamaan pakai kacamata. Tapi mau tidak mau saya harus terbiasa, soalnya saya tetap ingin pandangan full HD ini huhu. Akhirnya setelah kurang lebih seminggu memakai kacamata, symptoms di atas sudah bisa saya tangani. Paling kalau lama banget, kepala agak berat jadinya, tapi mata pedih sudah tidak lagi dong tentunya. Yang belum terbiasa adalah kalau menyetir menggunakan kacamata. Padahal saya memutuskan menggunakan kacamata untuk keperluan menyetir malam yang kadang-kadang suka tidak jelas. Ya sudahlah, mungkin harus melatih diri sendiri #apeu.

Yah, yang penting pandangan jelas, diri ini tetap ca’em :D .

[SPOILER] Men in Black 3: Penutup yang Bagus

[SPOILER] Men in Black 3: Penutup yang Bagus

Kemarin malam, saya bersama dengan teman-teman berkesempatan untuk menonton film layar lebar Men in Black 3 (MIB3). Kisah film ini masih berputar di Agent J dan Agent K. Dengan plot utama, menghilangnya Agent K dari kenyataan dan Agent J yang berusaha mengembalikan rekannya tersebut. Hmmm mungkin sebenarnya tidak afdol ya kalau tidak menceritakan film ini secara lebih lanjut, makanya bagi yang belum nonton filmnya, gak usah dulu baca posting ini, karena tampaknya saya akan kasih SPOILER yang banyak hoho. Jadi dibaca dulu yadisclaimer-nya.

Disclaimer: Perhatian, tulisan ini sepertinya akan mengandung banyak SPOILER, jadi kalau mau baca, take the risk ya, ngga pake marah-marah karena udah dikasih tahu ahaha :P

Cerita dibuka dengan kaburnya seorang penjahat luar angkasa bernama Boris The Animal, atau terjemahannya adalah Boris si Buas. Ternyata si Boris ini dulu ditangkap oleh Agent K di masa lalu dan dipenjarakan di Lunar Max, sebuah penjara bulan. Si Boris ini dendam sama Agent K karena dialah yang membuat lengan Boris putus dan membuat Boris tidak bisa melakukan serangan ke planet bumi. Akhirnya Boris yang sudah bebas, mendatangi Jeffrey Price, anak dari Obadaiah Price (orang yang dibunuh oleh Boris ketika dia kabur dari penjara), yang bisa membuat Boris melakukan perjalanan waktu, atau kalau di filmnya, dia melakukan time jump ke masa dimana Agent K menangkapnya dulu.

Ternyata oh ternyata, si Boris berhasil membunuh Agent K di masa lalu, sehingga Agent K di masa kini pun menghilang. Agent J adalah satu-satunya orang yang ingat dengan Agent K. Ketika berada di markas besar MIB, dia heran kenapa tidak ada orang yang mengenal Agent K, malah Agent O yang merupakan pimpinan MIB yang sekarang (Agent Zed sudah wafat) mengatakan kalau Agent K sudah meninggal kira-kira 40 tahun yang lalu. Agent J tidak percaya hal tersebut dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dibantu dengan Agent O, Agent J mengetahui bahwa ada seseorang yang membunuh Agent K di masa lalu dan menghilangkan keberadaan Agent K di masa kini. Maka pergilah Agent J ke Jeffrey Price untuk melakukan lompatan waktu, ke hari dimana Agent K masih hidup. Ia harus melakukannya dengan berbagai risiko yang ada, karena Boris sudan melakukan invasi ke planet bumi. FYI, bumi ketika ada Agent K, adalah bumi yang memiliki sistem pertahanan yang namanya jaringan Arc. Sistem pertahanan ini dipasang oleh Agent K, dengan meninggalnya Agent K 40 tahun yang lalu, maka keberadaan jaringan itu pun hanyalah masa lalu belaka. Maka dengan mudah Boris melakukan serangan ke planet bumi.

Di masa lalu, Agent J tanpa sengaja bertemu dengan Agent K muda yang sedang mengusut kasus pembunuhan alien oleh Boris (ini Boris di masa lalu). Akhirnya kedua rekan ini kembali berkumpul meski di dimensi waktu yang berbeda. Dengan segala usaha, akhirnya diketahui bahwa Boris ini sebenarnya mengincar untuk menghancurkan planet bumi dan bermaksud untuk membunuh seorang (??) alien dari planet Archana yang memiliki sistem keamanan Arc yang nantinya akan dipasang di bumi oleh Agent K. Dengan berbagai pergumulan, akhirnya kedua agen ini berhasil mengalahkan baik Boris yang berada di masa lalu dan Boris yang berada di masa depan. Agent J pun kembali ke waktu dimana ia seharusnya berada dan bumi dalam keadaan tenang. Yang asik, Agent K masih hidup! Yeay!

Dari film ini, ada banyak misteri yang terbuka, dari kenapa Agent K itu orangnya tertutup, padahal waktu mudanya ia termasuk orang yang menyenangkan dan memiliki hubungan dengan Agent O muda. Agent J berusaha mencari tahu kenapa Agent K muda yang begitu sering tersenyum, bisa menjadi Agent K yang pendiam dan sangat kaku. Dan yang paling penting adalah ketahuanlah kenapa Agent K mau merekrut Agent J yang waktu di film pertama, kayaknya nggak qualified buat jadi agen rahasia.

Pesan yang lebih penting adalah tindakan sekecil apa pun dari kita akan berpengaruh pada masa depan. Griffin, alien yang berasal dari planet Archana, adalah alien yang berkemampuan untuk melihat masa depan dengan berbagai versi. Versi yang mana yang menjadi kenyataan tergantung pada tindakan kita di masa ini. Misal, ketika Agent K lupa meletakkan tip sehabis makan di restoran, seharusnya masa depan yang terjadi adalah bumi tertabrak oleh meteor. Akan tetapi, Agent K kembali lagi ke restoran dan meletakkan tip di mejanya, mengatakan kalau dia lupa memberikan tip kali ini. Meteor yang tadi hampir menabrak bumi tersebut, kemudian bertabrakan dengan satelit yang lewat. Maka tidak jadilah meteor tersebut menabrak bumi.

Saya termasuk yang percaya bahwa tindakan apa pun dapat mengubah nasib kita di masa depan, maka tidak ada satu pun tindakan kita yang sia-sia. Sekecil apa pun tindakan kita, pasti akan membawa perubahan pada masa depan. Sama dengan yang saya alami dengan pengerjaan tugas akhir saya (jadi curhat), saya dulu sempat membaca banyak teori, memodelkan keadaan, ternyata pada akhirnya semua hal tersebut tidak digunakan di dalam tugas akhir saya. Sempat berpikir bahwa semua itu sia-sia saja. Akan tetapi, tidak juga ternyata. Saya jadi lebih yakin langkah mana yang mau saya ambil ke depannya, bentuk tugas akhir saya setidaknya jadi lebih jelas untuk saya. Ada perbedaan yang terjadi pada diri saya sendiri dibandingkan dengan saya yang di masa lalu.

What we have done in the past makes us who we are right now.

Segala yang terjadi di hidup ini tidak perlu disesali, meski terkesan jadi buang-buang waktu, tapi itu yang membuat diri kita saat ini. Juga sebagai bentuk pelajaran bagi kita untuk lebih menghargai diri sendiri dengan segala pengalaman yang telah kita lakukan di masa lalu. Sejauh ini, film MIB3 memberikan pelajaran yang baik bagi saya. Apa yang terjadi di masa lalu, tidak akan saya lupakan dan tidak akan saya sesali, cukup saya ingat dan jadikan pelajaran untuk ke depannya :)

Sungguh film yang bagus dan menghibur. Ayo semua, jangan lupa sempatkan menonton MIB 3 yah, katanya ini film terakhir dari trilogi MIB, katanya sih si Tommy Lee Jones juga udah terlalu tua untuk melanjutkan film ini, makanya kebanyakan yang main adalah si Agent K muda haha. Yuk kita nonton film bagus lagi :D

Karyawan Harus Fokus, Pekerjaan Juga Harus Efisien

Karyawan Harus Fokus, Pekerjaan Juga Harus Efisien

Kemarin saya memiliki kesempatan untuk bertandang ke salah satu restoran (I don’t know what I should call this place, since they’re not really that restaurantistic nor cafeistic… Something inbetween) di Bandung yang menjual aneka kue dan makanan lainnya. Ini adalah kunjungan saya yang kedua, dalam kunjungan pertama saya ke sana, saya mengatakan pada diri sendiri bahwa pergi ke sana cukup sekali saja, just to know, bukan untuk menjadi pelabuhan setiap kali lidah dan perut perlu dimanjakan. Alasan kunjungan kedua saya adalah karena saya belum sempat mencicipi menu asin (atau gurih?) dari tempat tersebut, saya hanya baru sempat makan kuenya saja, alasan kedua adalah karena Romi dan Imam belum pernah makan di sana, jadi ya kenapa tidak? Sayangnya untuk kunjungan kedua ini, saya merasa kurang puas dengan pelayanan yang diberikan, meski rasa makanannya…. ya bolehlah. Pelayanan kali ini sungguh lama dan memakan waktu, saya sendiri sampai suka gemas karena pelayannya seperti kurang responsif. Nah untuk itu, mari ditelaah lebih dalam, siapa tahu bisa jadi ilmu baru :)

Seperti biasa, keadaan resto saat itu lumayan penuh, untuk area no smoking-nya sudah penuh, maka kami putuskan untuk duduk di area smoking saja, lagipula juga tidak terlalu banyak yang merokok saat itu. Kemudian, Romi memutuskan untuk duduk duluan di meja, sementara saya, Dera, dan Imam menunggu di etalase kue di depan, untuk memesan kue (FYI, si restoran ini tidak menggabungkan pemesanan kue dan makanan ‘berat’-nya, jadi untuk kue harus si konsumen yang datang ke etalase, padahal juga nanti bon-nya digabung, sampai sekarang saya gak paham kenapa kok ngga pesan di meja saja). Di etalase kue, terlihat si pelayannya sangat sibuk mengeluarkan kue, kemudian memotongnya. Kemudian Imam mengatakan sesuatu yang saya juga sangat setuju dengan pernyataan tersebut.

Kenapa ya kok Mbaknya abis motongin kue, dimasukin lagi ke etalase. Terus kalau ada yang mau pesan, dikeluarin lagi satu loyang, abis itu potongannya diletakkan di piring, abis itu kuenya ditaruh lagi di etalase kue. Repot gak sih? Bukannya enakan kalo dia udah motong-motong kuenya, abis itu tiap ada orang mesen, ya tinggal diambil potongannya, nggak usah dipotong satu, terus keluar-masukin satu loyang gitu. Kalo ada yang mau pesen lagi, dikeluarin lagi, terus dipotong lagi sebiji?

Yes. Kenapa gak mikir sederhana aja ya bagian operasionalnya? Menurut saya agak repot sih, soalnya gini, konsumen sebelum saya itu pesannya rainbow cake, terus saya juga pesan kue yang sama. Si pelayan awalnya mengeluarkan kue pelangi tersebut dari etalase untuk konsumen sebelum saya, kemudian ini adalah rangkaian kegiatan yang pelayannya lakukan:

  1. Ia memotong kuenya
  2. Meletakkan kue di piring
  3. Memasukkan si loyang kue pelangi ke dalam etalase

Nah terus ternyata saya juga mau pesan rainbow cake, jadi si pelayan harus mengulang lagi langkah-langkah di atas dan itu membuat waktu antrian jadi sangaaaaaattt lama dan saya juga jadi jemu menunggu. Lalu, setelah memesan kue, si pelayan bertanya kami akan duduk dimana, biar kuenya diantar saja. Kami yang berada di etalase kue, tentu saja belum tahu nomor meja kami, lalu kami bilang, itu tuh yang di meja panjang itu. Kemudian si pelayan keluar dari area kerjanya (etalase kue) dan tampak sibuk mengatakan sesuatu pada rekannya. Yang saya tangkap adalah, si pelayan etalase kue itu, tampaknya tidak setuju (atau gimanalah ya) dengan kami yang duduk di meja panjang itu (kapasitas meja itu bisa lebih dari 4 orang, sementara kami hanya ber-4). Kemudian ia memberi tahu temannya untuk membagi dua mejanya. Saya yang sedang menunggu konfirmasi pesanan saya merasa, lho kenapa si pelayan malah meninggalkan kami??? Potong dulu kue kami, persilahkan kami duduk atau bagaimana, menunggu sambil berdiri kan juga tidak enak. Proses dia berbincang dengan temannya itu agak lama, sudah gitu kelihatan kalau si Mbak ini jadi ekstra sibuk dan tidak kembali ke etalase kue. Saya pikir, oh mungkin ada yang menggantikan dia di etalase untuk memotong kue. Ternyata tidak ada. Terpaksa kami menunggu.

Ini yang membuat tidak puas lagi. Pelayan ini tidak fokus dengan tugasnya sebagai pemotong kue atau penjaga etalase kue, atau apa pun lah sebutannya. Dia harusnya fokus di station-nya saja, tidak usah mengurus masalah meja ini ditempati oleh orang yang kapasitasnya lebih sedikit atau bagaimana sehingga meja harus dibagi dua syalala, masih banyak pelayan lain yang bisa memikirkan hal tersebut. Tidak fokusnya si pelayan ini merugikan kami karena waktu kami menunggu itu menjadi lebih lama. Kecuali, di etalasenya ada pelayan lain yang bisa menggantikan tugasnya, itu tidak akan menjadi masalah besar.

Saya jujur saja agak kesal dan merasa pelayanan resto mengecewakan. Harusnya mereka tahu kalau antrian terhambat akibat pelayan yang lalai itu hanya akan menambah sumpah serapah konsumen saja. Mungkin saja sebenarnya, operasional mereka yang seperti itu, ada reasoning yang mungkin terdengan excusable, tapi tetap saja deh kayaknya. Making excuses yang dampaknya ketidakpuasan konsumen itu terkesan gimanaaa gitu. Saya sudah malas kalau harus makan untuk ketiga kalinya di sana, mungkin take away adalah opsi yang bagus, tapi untuk dine in, itu adalah big no no.

Jadi berdasarkan pengalaman saya kemarin, ada dua hal yang sebaiknya diperhatikan untuk soal pelayanan:

  1. Pekerjaan harus efisien, tidak makan waktu, kurangi tugas yang repetitif di setiap pelayanan (contoh si potong kue itu, berkali-kali sampai gemas saya lihatnya)
  2. Karyawan harus fokus di station-nya, jangan urusi hal lain kalau tidak ada pengganti, pastikan konsumen tidak terbengkalai karena ada suatu hal yang tidak beres. Mencoba membereskan hal lain dengan meninggalkan konsumen sama saja dengan membuang waktu konsumen dan membuatnya kesal. Make sure for substitute.

Over all, saya merasa sedikit kesal kemarin, pelayanan yang terkesan rempong dan lama itu tidak masuk ke daftar favorit saya. Masih banyak yang bisa ditingkatkan dari segi pelayanan restoran tersebut. Kalau rasa makanan, itu bisa dibantu dengan pensuasanaan resto yang asyik, atau menyesuaikan dengan selera orang saat itu (misal memunculkan menu-menu yang lagi hip sekarang, semacam red velvet atau semacamnya). Soal pelayanan, saya rasa tidak ada harga tukar yang pas.

Haha. Sok tahu ya. Udah yuk yak yuk.

Black Swan: Loose Yourself

Black Swan: Loose Yourself

Sore (atau siang ya) tadi saya berkesempatan menyaksikan film berjudul Black Swan yang dibintangi oleh Natalie Portman dan Mila Kunis. Gak sengaja sih lagi tuker-tuker channel di TV terus ketemu sama film ini. Tertarik sama review-nya yang positif sampai masuk nominasi Oscar, akhirnya saya tertarik buat nonton. Walau dulu saya sempat mau nonton di bioskop, tapi batal karena santer beredar gosip bahwa film ini jelek dan sulit dimengerti. Huft. Kemakan omongan orang lain. Tipikal akoh bangets.

Inti cerita dari film ini adalah tentang Nina (Portman), seorang balerina yang mendapat peran di pentas Swan Lake dan jadi terobsesi sendiri sama perannya tersebut. Nina mengalami halusinasi dan membuat spekulasi sendiri di kepalanya mengenai Lily (Kunis) yang menjadi pemeran penggantinya di pentas Swan Lake, apabila sesuatu terjadi pada Nina di tengah-tengah pertunjukkan. Nina digambarkan sebagai karakter yang manis, serius, kaku, sedangkan Lily adalah karakter yang lebih santai dan easy going. Plot mulai membara ketika halusinasi Nina semakin parah, apalagi dengan ia mengira dirinya sendiri akan berubah menjadi angsa hitam (black swan). Akhir cerita yang eksentrik pun membuat film ini makin yahuuud. Yaudah ya segitu aja, daripada jadi spoiler terus bete terus sedih. Hauhau apeu.

Overall, saya suka dengan jalan cerita, akting, sinematografi film Black Swan. Tergambarkan aura gelap dan depresi dari Nina. Yang membuat saya tertarik adalah jalan cerita film ini yang gak biasa dan menarik untuk ditonton hingga akhir. Yang oke lagi, kira-kira karakter Nina itu ada di sekitar, karakter yang nyata, bisa saja itu kita sendiri, orang lain, teman dekat, atau siapa pun. Nina digambarkan sebagai orang yang ambisius, high determined, dan yah gitulah pokoknya berusaha keras sekali untuk menuju puncak. Sayangnya, dia terlalu serius pada pekerjaannya itu, hingga dia ngga punya waktu buat dirinya sendiri untuk merasa lebih santai dan having more fun. Di ujung film, sehari sebelum pentas, terlihat Nina sedang berlatih dengan keras bersama dengan pianisnya, tapi pianisnya mendadak pergi karena mengatakan ada urusan. Meski tidak ada musik yang mengiringi, Nina masih menari terus sampai akhirnya sesuatu horor terjadi (ngga mau ceritain apa-apa, nonton aja sendiri hoho :P ). Usaha dia terlalu keras, bahkan sampai melibatkan orang lain (nyuruh pianisnya untuk tinggal lebih lama ngiringin dia nari).

Kurang lebih sama ya kayak lagi ngerjain sesuatu, terus bener-bener hanyut dalam hal itu, sampai-sampai gak ada waktu main, berlatih terus karena merasa gak percaya diri dan sebagainya. Terlalu fokus kayak gini memang bisa menyebabkan stress berlebihan, makanya penting rasanya selain bekerja keras,  disempatkan diri jauh dari tugas dan meregangkan otot-otot sedikit. Mungkin ada beberapa orang bilang: ah, gw bisa kok kerja keras, gak main-main dulu dan sukses. Fun itu kan tergantung bagaimana kita mendefinisikannya, kalau kita have fun in the process ya gak masalah sebenarnya, jadinya have fun juga. Pesan dari film ini pun (untuk saya pribadi) adalah ketika mengejar suatu target, ada baiknya melihat ke sekeliling, mencoba untuk enjoy di setiap proses yang dijalani, supaya ya lebih santai dan asik aja jadi gak merugikan diri sendiri. Fokus itu baik, bagus malah, tapi sesuatu yang berlebihan itu gak akan pernah baik, ada baiknya juga memperhatikan hal sekitar :) .

Saya suka film ini, sayang sekali tadi nggak nonton dari awal, tapi dapat juga pesan dari filmnya. Works for perfectionists :) jangan stress yah, have fun.

Bisnis Bukan Hanya Soal Jual Produk

Bisnis Bukan Hanya Soal Jual Produk

Beberapa hari yang lalu, saya melakukan pembelian melalui drive-thru di salah satu restoran cepat saji terkenal di Indonesia. Karena tidak mau makan banyak dan aneh-aneh, saya pesan menu standar saja, yaitu ayam goreng dan nasi. Kebetulan seharian itu saya belum makan nasi. Masalah yang terjadi malam itu bukan karena rasa makanannya yang tidak sesuai dengan harapan atau minumannya tidak berasa. Makanannya baik-baik saja rasanya, seperti biasa, yang dikeluhkan adalah pelayanan dari restoran tersebut.

Jadi sebenarnya menu di restoran tersebut bisa dipilih sesuai dengan keinginan dari konsumen. Untuk menu yang saya ambil, sebenarnya yang dapat diubah adalah minumannya saja, untuk ayam hanya ada dua pilihan. Jadi kronologisnya, saya pesan paket X, pelayannya kemudian mengiyakan dan mencatat pesanan saya. Selanjutnya saya kok heran, tumben dia ngga nanya ayamnya mau diubah atau ngga. Terus saya tanya, apakah ayamnya bisa diganti jadi dada tulang? Kata masnya tidak bisa, palingan hanya bisa diganti paha bawah atau sayap. Lalu saya bingung, kenapa dia tadi tidak tanya sama saya, maunya ayam apa, siapa tahu saya alergi sayap ayam atau bagaimana. Saya langsung bilang, saya maunya paha bawah saja. Untuk minuman sodanya, seharusnya bisa diganti (tidak harus coca cola) tapi lagi-lagi si mas tidak bertanya. Kok agak aneh sih, memang sih saya tidak mau minum sodanya juga, nanti sudah saya rencanakan akan buang ketika sampai di kosan (saya tidak bisa minum soda).

Setelah transaksi selesai dilakukan, saya jadi bingung, kenapa proses pembelian ini berbeda dengan yang biasanya saya lakukan ya? Apakah saya sudah terlalu lama tidak memesan di restoran ini, jadinya ada tata cara yang berubah? Entah sih, saya sudah ada sebulan lebih tidak makan di sana. Kemarin hanya karena terpaksa saja, jadinya beli makanan cepat saji.

Yang saya kecewakan sebenarnya adalah pelayanannya yang menganggap saya adalah orang yang sering membeli di sana. Informasi yang saya dapatkan biasa saja, saya harus bertanya lebih aktif kepada pelayannya. Jenis pelayanan seperti ini sebenarnya yang bisa mengurangi kesetiaan pelanggan, jadinya terasa seperti kurang perhatian. Tidak salah sih, tapi kan restoran ini sudah lama berdirinya, ada baiknya dia melayani pelanggannya dengan baik dan punya standar-standar yang dipenuhi. Malam itu yang saya memutuskan, lain kali beli kentang atau burger saja, tapi saya sendiri juga kurang suka dengan burger dan kentangnya (repot).

Repot ya, saya ternyata bisa merasa tidak puas dengan pelayanan yang diberikan oleh si pelayan tersebut. Padahal si pelayan sudah ramah, tersenyum, dan rasa makanan saya enak. Tapi ya itu, perhatian ekstra dari si pelayanlah yang memang membuat pelanggan merasa benar-benar puas.

Dulu saya pernah membaca suatu buku, katanya untuk memenuhi suatu kualitas, kita perlu memenuhi ekspektasi pelanggan bahkan melebihinya. Hal yang tidak disangka oleh pelanggan itu akan menambah nilai kepuasan. Mungkin ini yang saya inginkan dari pelayanan restoran cepat saji tersebut. Saya berharap tidak hanya ekspektasi saya saja yang terpenuhi, tapi resto melakukan hal lebih hingga detail hingga saya merasa diperhatikan.

Memang benar ya, tidak cukup hanya dengan jualan barang bagus, kita perlu memberikan pelayanan yang baik. Bagaimana pun bisnis bergerak karena memang ada yang membeli, kalau tidak ada ya, enaknya gulung tikar dan gulung konde (apa sih).

Sekian dan salam perdamaian.

 

Mengunjungi Perpustakaan Teknik Industri ITB

Mengunjungi Perpustakaan Teknik Industri ITB

Salam untuk semua pembaca setia (kayak ada)!!!

Hari Kamis yang indah setelah menonton seminar tugas akhir rekan sejawat di informatika 2008, saya dan Imam memutuskan untuk tidak memutus rantai kebahagiaan hari itu dengan berkunjung ke perpustakaan Teknik Industri ITB (TI ITB) untuk mencari buku referensi demi tugas akhir. Saya sebenarnya belum membutuhkan buku referensi tambahan untuk tugas akhir saya, tapi yah ada baiknya ya bagi saya untuk sekedar ke sana saja, siapa tahu ketemu jodoh buku bagus mengenai bisnis. Bagaimana pun juga kan dulu saya pernah tertarik untuk masuk ke prodi TI awalnya.

Lokasi perpustakaan ini adalah di gedung TI (ya tentu saja) lantai 3 di sebelah kanan tangga. Nanti kelihatan kok, ada plangnya. Pertama kali masuk, saya baca peraturan untuk menitipkan tas dan jaket di loker. Yang aneh, loker besi dan loker kayu ini tidak memiliki kunci, kata si Bapak penjaga sih memang tidak ada kuncinya. Lha ya buat apa taruh tas kalau begitu? -______-” keamanannya tidak terjamin. Tapi ada Bapak penjaganya juga sih yang posisinya persis menghadap loker. Tetep aja parno. Kalau si Bapak lagi meleng dan ada yang memanfaatkan situasi kan bisa berabe. Huft~

Yah tapi apa boleh buat, karena kata si Bapak harus meletakkan tas di loker, saya dan Imam pun meletakkan tas kami. Kami percaya pada si Bapak. Semoga. Nah kemudian saya dan Imam lanjut mencari buku di sana. Koleksi bukunya lumayan banyak, tapi ada satu rak yang sangat tinggi, membuat saya dan Imam heran, bagaimana cara mengambil buku tersebut, mungkin harus minta tolong Bapak penjaganya kali ya. Di ruangan bagian yang menyimpan TA mahasiswa TI, terdapat 3 komputer yang dapat digunakan untuk mencari buku. Saya iseng-iseng ketik ‘Harvard’, ternyata di perpustakaan TI ada buku dari HBR! Wah, menarik juga, lumayan buat baca-baca hehehe. Tapi sayang sekali, ketika saya cari, bukunya tidak ada. Entah bukunya sedang dipinjam atau hilang ::cry:: ya sudahlah, mungkin bukan rejeki saya. Hiks hiks

Beruntungnya Imam menemukan buku yang dapat ia gunakan sebagai bahan referensi TA. Kata Imam bukunya super berdebu, tulisannya hampir gak bisa dibaca, dan kerasa banget lawasnya. Yah, yang penting ilmunya yah hoho *mencoba bijak*

Di perpustakaan TI ada jasa fotokopi, jadi untuk mahasiswa yang tidak punya kartu perpus TI dapat menggandakan beberapa lembar suatu buku dan membawanya pulang ke rumah. Paling ya harus bayar saja hehe. Yang menarik adalah ternyata Bapak dapur IF yang shift malam, bekerja sebagai petugas fotokopinya. -_________________-” yang bener aja. Awalnya saya kira mirip saja, tapi Imam mengiyakan bahwa itu adalah si Bapak dapur. Hoho mungkin kalau siang di TI, kalau malam di IF. Oke banget deh.

Saya suka ke perpustakaan, tapi entah kenapa kebanyakan perpustakaan di Indonesia, khususnya di ITB tidak menyediakan tempat yang nyaman untuk membaca buku. Bahkan perpustakaan pusat ITB pun tidak seciamiks itu, padahal kita kan kampus research ya, harusnya untuk soal buku-buku terbaru lebih ciamiks. Yang sedihnya, buku yang di perpus ITB kebanyakan adalah buku lama, contohnya buku si Imam, itu keluaran tahun 1977 -____-”. Terlalu lama dan menyebabkan ilmu yang di dalam situ siapa tahu sudah tidak up to date. Ya sudahlah, yang penting senang sudah pernah ke perpustakaan lain.

Senang rasanya kalau ada tempat yang nyaman dan kondusif untuk baca buku hehe. Selama ini yang saya temui tempat yang nyaman untuk membaca itu adalah perpus gaul yang juga menjual makanan dan minuman gitu, semacam R*ading L*ghts. Hoho. Moga-moga perpustakaan ITB suatu saat bisa senyaman itu, bahkan lebih nyaman yaa :D

Beware of The Email Scam From The-So-Called-Amazon

Beware of The Email Scam From The-So-Called-Amazon

This afternoon, I just got an e-mail from order-update@amazon.com saying that I have cancelled an order. Surprisingly, I never order anything from Amazon and I don’t have an Amazon account. So it was VERY suspicious, definitely it’s a fraud.

Then I remember that one of my friends have experienced some email-problem with Amazon too. She told to contact the Amazon about the email’s validity. So then I had a chat with one of the Amazon rep and his name is Praveen. From his name, I guessed he’s from India, then my mind flew to some random Indian film scene starred Shahrukh Khan.

Ehm. Let’s get back to business.

Here’s a copy of my chat with Praveen:

You are now connected to Praveen from Amazon.com.

Me:Received suspicious email from Amazon regarding order cancellation

Praveen:Hello Saskya, I’m Praveen from Amazon.

Me:Hello Praveen

Praveen:May I have your e-mail address please?

Me:sure, sasq_horse@yahoo.com

Praveen:Thanks.
I checked and confirm that there is no Amazon account using the sasq_horse@yahoo.com
Can you please copy and paste the e-mail here?

Me:yes, and I just got a suspicious email from order-update@amazon.com about some order cancellation
Dear Customer,
Your order has been successfully canceled. For your reference, here’s a summary of your order:
You just canceled order 14-474-663 placed on May 2, 2012.
Status: CANCELED
_____________________________________________________________________
1 “Gyro”; 2006, Second Edition
By: Mairead Morris
Sold by: Amazon.com LLC
_____________________________________________________________________
Thank you for visiting Amazon.com!
———————————————————————
Amazon.com
Earth’s Biggest Selection

http://www.amazon.com

———————————————————————

Praveen:Thanks for the information, Saskya.
The e-mail you received wasn’t from Amazon.com. We recommend that you delete the e-mail. For your protection, do not respond to it, and do not open any attachments or click any links it contains.

Me:oh okay, so the address order-update@amazon.com is not existed?

Praveen:Yes.
Please delete the e-mail.
Is there anything else I can do for you today?

Me:I think that’s all, thanks Praveen :)

Praveen:It was my pleasure. Have a good night!
Thanks for visiting Amazon.com. We hope to see you again soon! Please click the “End Chat” link to close this window.

The information that was given by Praveen was really helping. He told me to delete the e-mail instantly, without reading it first nor clicking any link and attachments included in it. From what I read on the Internet, such e-mail like that is actually a fraud, any link that included in there is  virus. So, not giving it a care is exactly the best action to do.

I am really contented with Amazon’s service, their procedures on treating a customer is really great (IMO). Even though I am not registered within Amazon, they still give the best service as if I am one of their customers. The procedures to contact Amazon’s rep is also easy. Right now, I’m really curious about the working atmosphere in there ;) An interesting company indeed.

Berusaha Hidup Sehat

Berusaha Hidup Sehat

Berawal dari membaca artikel mengenai kanker hati (yang belum terbukti benar atau tidak) di facebook, saya sebagai mahasiswa tingkat 4 yang akhir-akhir ini sering begadang dsb jadi ketar-ketir. Di artikel itu disebutkan bahwa penyebab utama dari rusaknya hati adalah “tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang”. Sebenarnya semalam-malamnya saya tidur, saya pasti kebangun setidaknya jam 6 pagi (itu otomatis tanpa weker) baru 1-2 jam kemudian merasa lemas dan tertidur lagi. Ini sebenarnya juga kurang baik sih, soalnya kalau tidur lagi di pagi hari, terus bangun, sensasinya akan lemas, tidak seperti bangun di pagi hari (misal jam 5).

Saya dulu pernah tidur subuh-subuh, sekitar jam 4 pagi, baru bangun jam 11 siang (dapat 7 jam tidur), tapi bangun juga bodi gak enak. Rasanya kayak lecek badan ini, sudah lecek, agak pusing juga, bedalah pokoknya kalau bangun siang gitu. Makanya saya usahakan jam 2 itu sudah tidur, jadi setidaknya saya bisa bangun jam 6 pagi.

Setelah saya baca artikel ini, langsung agak parno, buru-buru saya tidur, maksimal jam 10 malam sudah terbaring di tempat tidur untuk relaksasi membiarkan liver melakukan pekerjaannya.

Salah satu alasan lain yang merusak hati (yang tentu saja bikin watir) adalah tidak sarapan. Aduh saya dari jaman tingkat 1 bisa dihitung kapan saja saya makan pagi, pokoknya tidak setiap hari. Bahkan untuk akhir pekan yang indah, saya suka tidak makan pagi. Alasannya bodoh sih, karena malas. Akhirnya setelah itu saya usahakan selalu makan pagi, entah itu dengan sereal, dengan telur yang divariasikan (saya sudah bisa bikin poached egg berkat keinginan kuat untuk sarapan :9), dengan buah potong, atau makan lontong kari, bubur dsb sekedar untuk mengisi perut.

Untuk siangnya, saya pasti makan, yah yang biasa sajalah, kalau sedang di kampus ya saya makan di kampus, kalau sedang di kosan ya masak sendiri lebih asyip. Untuk makan malam sama saja seperti makan siang, saya pasti makan, biasanya kalau sedang pergi sama teman ya makan di luar, tapi kalau lagi seret uang, ya masak di kosan.

Jipernya lagi melihat artikel ini adalah fakta bahwa menggunakan pengawet, pewarna buatan, penguat rasa, pokoknya semua yang serba tidak alami akan merusak kerja hati juga. Makin watir kan. Secara saya ini kalau makan suka di pinggir jalan (yang udah gak tahu berapa karung vetsin masuk makanan saya), terus minyak yang mereka pakai pasti udah berapa kali pakai sampai hitam, dan sebagainya. Jadi semakin watir dan membuat saya memutuskan untuk sebisa mungkin saya makan masakan sendiri saja. Setidaknya saya tahu cara mengolahnya, minyaknya bagaimana, saya sudah jelas tidak pakai vetsin (cukup garam, gula, dan lada secukupnya). Soal rasa….. Ya sudahlah, kata alharhum kakek saya, semakin masakan tasteless, kamu akan semakin sehat, contohnya kakek. Oke deh, nasihat kakek ini yang saya pegang kalau makanan saya kadang rasanya ampun-ampunan huhu.

Jadilah saya banyak beli sayuran, buah, bumbu masakan, in order saya bisa masak dan banyak variannya. Jadilah saya sekarang sukanya diam di kosan sambil nonton tv atau mendengarkan musik, kalau mau makan tinggal masak. Hemat, tidak ada alasan mager dan proses pengerjannya menarik. Jadinya saya sekalian belajar masak juga sebagai bekal menikah nanti (ciyee). Bahkan uang saya pernah utuh sama sekali, tidak berkurang, karena saya berhari-hari masak. Berasa kaya banget waktu itu.

Ada untungnya juga saya melihat artikel itu, jadi bisa latihan memasak dari sekarang (karena memasak itu prinsipnya practice makes perfect :9), setidaknya pernah coba-coba jadi pas nanti mau masak beneran buat *ehm* suami dan anak gak keliatan bego-bego amat. Apalagi kalau di depan mertua, kyaaaaa jangan sampai saya terlihat gak pernah masuk dapur, tengsin bow :P .

Semoga semangat memasak ini juga merupakan langkah awal saya buat nanti menempuh pendidikan di luar negeri nanti :D karena tentu saja di luar negeri gak ada abang nasi goreng yang murah meriah, pasti mahal dan bikin tekor, mau gak mau harus masak sendiri.

Oiya, sekalian bertekad juga, saya pingin masak nanti buat anak-anak saya, dimana bahan makanannya itu alami, gak pake yang buatan-buatan, jadi mereka sehat beneran :D hehe. Susah sih kayaknya, tapi pasti bisa, semangat semangaaattt!!!!

Ayo kita makan-makan dan masak-masak lagi hehe

Ada Tukang Ngutil di Sini

Ada Tukang Ngutil di Sini

Kemarin saya mengalami suatu musibah kecil, yaitu raibnya baju kemeja denim saya, padahal itu punya ibu saya (jadi makin sedih). Saya tinggal di kosan yang menyediakan jasa laundry, beberapa saat yang lalu si Ibu Cuci (panggilan saya untuk si Ibu yang mencucikan baju anak kosan saya) memberi label nama di baju saya. Saya pikir oh bagus juga sih karena sempat beberapa saat yang lalu saya kehilangan kaos dalam dan baju Inferno saya. Untuk yang kaos dalam saya rasanya ingin meluluhlantakkan kosan saya, rasanya kesal sekali kenapa sampai ada orang yang salah ambil baju dan parahnya tidak mengembalikan baju tersebut. Untuk yang kaos dalam ini saya sudah pasrahkan saja karena stoknya banyak. Baju saya yang MIA di kosan berikutnya adalah kaos Inferno warna merah. Ini adalah kaos acara himpunan yang membuat saya semakin bingung apa menariknya baju ini untuk diambil. Istilahnya gak ada nilai plus gitu, gak ada kereng-kerennya. Yang ambil ya saya rasa gak punya selera juga, karena saya juga gak gitu suka sama baju itu, jadi ya udahlah gak papa diambil juga.

Kasus kehilangan baju teranyar saya adalah kemeja denim lengan pendek yang saya berikan ke Ibu Cuci sekitar 3 atau 4 hari yang lalu, seharusnya sudah selesai besoknya. Karena kegiatan di kampus, tak jarang saya suka lupa ambil di hari selesai cuciannya. Esoknya saya ambil semua cucian. Kaos lengkap semua, kaos dalam saya juga aman, kemeja lengan panjang saya juga aman. Akan tetapi anehnya tidak ada kemeja denim punya saya itu. Sedikit panik, saya coba cari di seluruh lemari dan laci yang biasa digunakan sebagai tempat meletakkan baju yang sudah disetrika. Tidak ada juga. Sudah mulai panik sekali, saya pun masuk ke dalam kamar dan lapor ke keluarga di Jakarta, sarannya sih tunggu saja sampai besok dan tanya Ibu Cuci. Itu sih saya sudah tahu, pengennya orang rumah datang ke Bandung dan membantu mendamprat satu-satu anak kosan. Bahkan ya usaha pencarian saya ini sampai ngubek-ngubek tumpukan baju kering yang belum sempat disetrika sama si Ibu.

Pagi ini saya bangun dengan semangat 45 mau bertanya kepada Ibu Cuci mengenai kemeja denim saya. Saya berharap semoga sebenarnya baju saya itu nyelip dimana dan hari ini bisa ketemu. Ternyata tidak. Si Ibu bilang bajunya sudah dicuci, diletakkan di urutan atas, di lemari yang saya sudah obrak-abrik sampai capek sendiri juga tetap tidak ada. Si Ibu janji akan mencarikan baju tersebut. Saya pikir alhamdulillah kalau begitu, jadinya saya tidak perlu repot ngobrak-ngabrik kamar anak kosan. Katanya Ibu, ada satu anak di rumah depan yang suka ambil baju anak lain dan dia pake. Kasusnya udah banyak, tetangga kosan saya pernah jadi korbannya semua. Mulai dari kaos kaki hingga baju atasan semua udah pernah diambil. Kata si Ibu selalu balik karena dia habis pakai, dicuci sama si Ibu lagi. Wah fix banget ini klepto. Kalau niat ambil ya maksud saya sebaiknya bajunya ngga pernah dikasih ke si Ibu lagi, mending dicuci sendiri kan. Ngga jarang si Ibu suka menemukan baju anak kosan belakang (tempat kamar saya berada) di keranjang cuciannya si anak ini. Kata Ibunya sih pernah beliau menanyakan mengenai keberadaan baju seorang anak kosan yang hilang kepada si anak ini, tapi ya jelaslah si anak ini gak ngaku. Yakale. Jadinya kalau mau bajunya balik ada 2:

  1. Konfrontasi anak itu, geledah kamarnya ampe puas. Dianya kita bekep
  2. Tunggu sampai dia memakai bajunya, dia letakkan di keranjang cuciannya dan dicuci oleh si Ibu. Untuk cara ini harus kongkalikong dengan si Ibu. Biar baju saya diletakkan di kosan belakang, perlu bilang sama Ibunya bahwa baju kita hilang. Jadinya bisa diselamatkan si Ibu.

Sedihnya saya itu berangkat ke kampus selalu pagi-pagi -___-” jadi kan harus nunggu agak sorean gitu kalau mau ambil bajunya. Yah semoga aja si cewe klepto itu udah pakai baju saya, jadinya Minggu udah dia cuci dan bisa kembali dengan tenang ke tangan saya. Yang penting adalah saya harus meriksa tumpukan baju di lemari, jaga-jaga siapa tahu baju saya sudah diselamatkan si Ibu dan harus buru-buru saya ambil supaya gak keduluan sama doi.

Yah dari peristiwa ini banyak yang bisa diambil. Banyak hikmahnya. Saya sih berharap semoga si anak kosan itu taubat dan sadar kalau dia itu gak baik berlaku gitu. Tapi ya namanya juga orang klepto yah mana sadar ya dia kayak gitu. Menurut dia sih itu wajar dan normal aja. Yah, semoga cepet sembuh deh mbaksist!

Salah Strategi e-toll kah?

Salah Strategi e-toll kah?

Baru-baru ini diberlakukan sistem pembayaran jalan tol menggunakan kartu, yang namanya e-toll. Sistem yang mirip sudah pernah diimplementasikan di negara lain, seperti di Korea misalnya. Pembayaran menggunakan kartu ini akan jauh lebih cepat dan efisien karena tidak perlu lagi ada masalah kembalian. Bisa menjadi solusi dari lamanya pelayanan pembayaran di jalan tol.

Tapi karena namanya juga beralih dari sistem lama ke sistem yang baru, pastinya ada sesuatu yang salah di masa transisi ini. Salah satunya pernah saya alami. Saat itu saya naik tol Pondok Aren dan masuk ke gerbang tol yang ternyata khusus untuk kartu e-toll. Tentu saja di sana hanya ada sistem otomatis dan tidak ada petugas manusia yang menunggu. Kebetulan saya tidak punya kartu e-toll, jadilah agak kaget juga pas lihat kok cuma ada mesin otomatis itu saja. Yang menyetir waktu itu adalah kakak saya. Dia tidak melihat tanda bahwa gerbang tol yang ia masuki itu hanya bisa melayani e-toll, mungkin dia melihat gerbang itu seperti gerbang yang hanya bisa dilewati oleh sedan dan sejenisnya (yang ada batas tingginya itu). Akhirnya kakak saya meminta bantuan kepada petugas, seorang petugas datang, mengeluarkan kartu e-toll-nya dan kakak saya membayarkan tarif tol kepada petugas tersebut. Nah tampaknya orang yang mengantri di belakang kami juga tidak punya kartu e-toll, jadi dia lolos dengan cara yang sama dengan kami.

Setelah itu saya wanti-wanti kalau di jalan tol harus lihat rambu. Jangan sampai saya salah masuk gerbang tol dan menyusahkan saya, petugas, dan pengguna jalan tol lain.

Kemudian hari ini, saya menempuh perjalanan yang sama dengan saat itu. Sekarang tentu sudah tidak salah masuk lagi hoho. Tapi ternyata masih ada orang yang salah masuk. Tadi ketika perjalanan pergi, saya melihat ada orang yang masuk ke gerbang e-toll itu, lalu lampu mundurnya menyala, dan dia mundur. Ows, ternyata salah masuk, tapi berbeda dengan kami yang langsung masuk terobos ke gerbang, orang ini memilih untuk mundur dan masuk ke gerbang biasa. :P

Yang mengerikan adalah ketika perjalanan pulangnya. Jadi ketika sedang melaju masuk ke gerbang tol biasa, dari arah kanan kami ada mobil Xenia yang masuk ke gerbang e-toll. Saya awalnya berpikir, oh e-toll mulai ramai dipakai oleh orang yah. Tiba-tiba si mobil Xenia ini banting setir ke kiri dan seperti mau bertabrakan dengan mobil kami. Untungnya kakak saya memperlambat laju mobil dan membunyikan klakson mobil sekencang mungkin. Akhirnya orang tersebut semacam sadar dan kami pun melaju duluan masuk ke dalam gerbang tol biasa. Wah sebenarnya semacam ngeri juga ya, karena orang ini salah masuk gerbang e-toll, bisa terjadi kecelakaan di situ.

Mungkin insiden salah masuk gerbang ini hanyalah masalah kecil, tapi jadi tidak baik kalau ada orang panik yang tidak terima nasib malah banting setir masuk ke jalur lain, padahal ada mobil lain yang masuk ke gerbang tersebut. Mungkinkah sebenarnya pihak Jasa Marga kurang berpartisipasi dalam manajemen perubahan ini? Ya menurut saya sih pasti mau publikasi gencar-gencaran seperti apa pun, pasti akan ada orang yang salah masuk gerbang tol. Jasa Marga seharusnya bisa mengantisipasi orang yang salah masuk ini dan harus dibantu seperti apa. Saya rasa sih sepertinya ini kurang dipedulikan oleh Jasa Marga, kerjaannya terkesan berhenti pada tahap implementasi sistem e-toll saja, padahal masih harus dikelola segala perubahan yang ada.

Yang nyesek lagi, petugas yang menjual kartu e-toll kepada para pengguna jalan malah berada di gerbang tol biasa, bukannya di gerbang e-toll. Sebenarnya kalau mereka berjualan di gerbang e-toll, orang yang salah masuk bisa beli, jadinya kan tidak mengurangi rasa panik. Ada keuntungan yang masuk karena penjualan kartu e-toll dan orang yang salah masuk tidak perlu repot banting setir untuk pindah jalur (ini membahayakan sekali sebenarnya).

Atau… Sebenarnya apakah Jasa Marga sudah melakukan pengelolaan perubahan, tapi mungkin hanya dilakukan di awal? Atau keadaan yang sebenarnya bagaimana ya? Kalau dari kacamata pengguna jalan tol, itu sih yang saya rasakan, entah kalau dari kacamata internal perusahaan Jasa Marga, mungkin ada argumen yang masuk akal. Harapan saya semoga tidak ada yang salah masuk gerbang lagi dan sampai banting setir demi masuk ke gerbang biasa. Saran saya sih pasrah saja kalau sudah salah masuk gerbang dan minta ditolong oleh petugas, jauh lebih aman untuk pengendara lain.