Tokusatsu Rasa Karedok: Bima Satria Garuda

July 6, 2013 § Leave a comment

Judul di atas ceritanya melambangkan sebuah serial terbaru di salah satu stasiun TV Indonesia yang berjudul Bima Satria Garuda (BSG), rencananya biar judulnya ear-catchyOkay, maybe not.

Saya terlambat menonton episode pertama BSG karena di TV saya tidak ada si stasiun TV yang menayangkan serial lokal tersebut. Imbasnya selain gak nonton adalah saya gak terkena euphoria dari serial ini ketika dipromosikan. Cukup sedih juga, sementara orang lain sudah berkicau mengenai betapa imbanya serial ini, saya cuma nyesek guling-guling karena ketinggalan nonton. Beruntunglah ada yang upload di internet, jadi bisa nonton deh~

So, what or who is Bima Satria Garuda?

Para penggemar kamen rider dari jaman Kotaro Minami hingga God knows what its name, mungkin udah gak asing dengan konsep ‘berubah’ dari sosok manusia biasa menjadi manusia petarung yang lengkap dengan armor tempurnya. Saya sendiri dulu gemar mengikuti sepak terjang satria baja hitam, mostly karena kakak saya suka nonton, jadi saya terpengaruh. Serial-serial penerus kamen rider pernah saya tonton, tapi entah kenapa tidak ada karakternya yang merasuk ke diri ini seperti Kotaro Minami. Sekarang saya dikejutkan dengan adanya kamen rider rasa lokal, rasa karedok! Rasa rendang! Rasa Indomie! #eh

Kamen rider lokal ini diberi nama Bima Satria Garuda dan katanya pembuatannya didukung oleh pihak Jepang. Woh, akan jadi gimana tokusatsu lokal ini?  Masih identik dengan Jepang, tapi syutingnya di Indonesia dan pemerannya orang Indonesia. Saya sendiri lumayan terharu dengan special effect yang terlihat baik malah jauh lebih baik dari sinetron naga yang ada di stasiun TV lokal lain. Kostum para pemeran pun saya bisa acungi jempol sampai jempol orang lain saya pinjem. Equipment semacam weapon juga penampakannya bagus, meski terlihat sih itu bukan blade asli yang tajam dan berat, but no problemo.

Secara keseluruhan baik, tapi masih tampak luar. Entah versi yang saya tonton kepotong-kepotong atau memang begitu adanya, tapi saya belum dapat latar belakang cerita ini dengan baik. Ada beberapa adegan yang berjalan begitu saja tanpa adanya penjelasan lebih lanjut, jadi rasanya kurang natural dan kurang mendekati realita. Kemudian akting dari para pemain yang sepertinya masih kaku dan kurang luwes. Saya merasa seperti nonton serial Jepang yang di-dubbing Indonesia saking formal bahasanya. Tapi enggak ganggu sih, cuma sepertinya bisa dibuat lebih santai jadi penonton bisa relate dengan kehidupan sehari-hari.

BSG masih lekat dengan identitas Jepang, rasa ‘karedok’ ada, tapi lebih banyak ‘yakiniku’. Segi cerita yang lemah, semoga saja karena ini masih episode 1, mari saksikan episode-episode berikutnya. Kapan lagi lihat serial pahlawan Indonesia digarap begitu serius? Enggak ada lagi efek murah meriah dan akting lebay yang ganggu. Untung yah meski akting para pemain di BSG masih kaku kaku ala orang Jepang, tapi yang penting tidak lebay norak ala sinetron. Cukup sudaaahh kalo ituuuu!!!!!!

Oh iya saya lupa bilang, BSG menularkan virus positif bagi yang nonton saya rasa :D Tidak ada efek-efek lebay seperti sinetron di serial ini, kurang lebih aman dan nyaman untuk anak sekolah menonton. Orang dewasa juga sih. Palingan yang harus diperhatikan adalah anak-anak harus didampingi orang tua ketika menonton, takutnya meniru adegan kekerasan pukul-pukulan. Mendidik juga, soalnya di awal-awal ada karakter Bima yang memberikan warning untuk para adik-adik agar menontonnya tidak terlalu dekat. Baik sekali~ Kapan lagi kan bisa nonton acara yang begini. Enggak lebay (kayak sinetron) dan mendidik (mungkin). Hehe.

Semoga semakin banyak hiburan yang layak dan mendidik bagi Indonesia! Yahuu yahuuuu~

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Bima sakti garuda at Saskyong's Blog.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,981 other followers